Rabu, 30 November 2016

mimpi disiang bolong

“Aku ini penggantinya Sehun.” Ucap pemuda itu kemudian duduk di bangku milik Oh Sehun.
Pemuda itu lantas tersenyum ke arahku, memperlihatkan deretan gigi depannya yang tersusun rapih.
Manis.
Jujur, aku tertarik. Sekaligus membuatku merasa malu. Aku lantas memalingkan pandanganku darinya.
“Oh, ada Lee Hyun di belakangku”
Dering telepon yang berbunyi mengalunkan lagu good friends milik Super Junior berhasil membangunkanku dari mimpi tadi.
Aku termenung sebentar,
“Oh, dia tersenyum untuk siapa?”
Kemudian menggeleng dan langsung menekan tombol berwarna hijau di layar ponselku.
“Hallo?”
“Kau tidak lupa kan kalau kita ada rencana siang ini?” Suara sahabatku, Park Ryeohyun terdengar sedikit nyaring dari sambungan telepon seberang sana.
“Iya, aku kesana 2 jam lagi.”
“Oke! Kutunggu.”
Ryeohyun memutuskan sambungannya. Lagi-lagi aku teringat mimpi itu, aku menggelengkan kepalaku lagi. Mencoba menghilangkan pikiran tentang mimpiku tadi.
“Ah, itu kan cuma mimpi.”
Tapi, senyum itu berhasil mengusikku selama beberapa saat. Jadi kupikir ada baiknya kalau aku menceritakan ini kepada Ryeohyun
Pesan singkat pertama berisi mimpi itu.
Pesan ke dua berisi:
From: Choi Inha
To: Park Ryeohyun
Kau tahu kan Ryeohyun? Dari yang dulu-dulu kalau aku memimpikan seseorang dan dia tersenyum padaku, itu artinya aku akan bertemu orang itu di dunia nyata .. Menurut kau bagaimana?
Dia membalas,
From: Park Ryeohyun
To: Choi Inha
Sudah, lupakan. Itu hanya mimpi siang bolongmu saja, tidak perlu dipikirkan.
“Ah, kenapa aku selalu melupakan kalau Park Ryeohyun adalah seorang yang sangat logis?”
Dua jam kemudian kami sudah menaiki bus kota dalam perjalan menuju sebuah pusat perbelanjaan. Sekedar cuci mata dan olahraga. Sebuah mall berlantai 6 mempunyai banyak anak tangga bukan? If you know what i mean.
Selama perjalan sekitar 20 menit kami asik bercerita namun suara itu menghentikan sesaat cerita kami.
“Kim Nara?”
Panggil seorang pemuda yang baru menaiki bus ke arah Ryeohyun. Ryeohyun menoleh dan lantas memasang wajah bingung.
“Eh? Bu bu bukan, aku bukan Kim Nara. Maaf.”
“Oh, Park Ryeohyun?”
Pemuda itu mencoba menebak lagi dengan senyum yang masih mengembang, Ryeohyun tersenyum canggung kali ini.
“I.. ya?”
“Kok sekarang mirip Nara?”
Ryeohyun hanya tersenyum, aku tahu dalam hati mungkin dia sedikit kesal karena disamakan dengan orang lain tapi dia hanya tersenyum. Tidak memperlihatkan emosinya saat ini.
“Oh, kau sekolah dimana sekarang?”
Pemuda tadi bertanya kembali,
“Hanyang.”
Ryeohyun menjawab seandanya, dan mengundang tanya pemuda tadi -lagi.
“Oh, dengan Kim Nara?”
“Iya, dia pindah ke sekolahku beberapa bulan lalu.”
“Oh begitu..”
Aku menyimak, mungkin mereka lupa kalau disini ada aku, yang tidak mengerti apapun tentang pembicaraan mereka. Yang aku tahu hanyalah bahwa Ryeohyun pasti masih mengingat siapa pemuda itu. Eh? Tapi tunggu dulu, senyum itu, suara itu, wajah itu seperti familiar untukku.
Aku memperhatikan pemuda tadi, dia sedang sibuk memainkan smartphonenya. Tak lama kemudiam pemuda itu pun turun meninggalkan kami. Oke ralat, meninggalkan bus.
“Duluan ya!”
Ucapnya sesaat sebelum turun, Ryeohyun menggangguk dan tersenyum canggung.
Kini giliranku. Waktuku untuk mencerca Ryeohyun dengan beberapa pertanyaan tentang dia.
“Dia siapa? Namanya siapa?”
“Dia temanku di sekolah dasar dulu, namanya Park Chanyeol.”
“Oh .. Terus sekarang dia sekolah dimana?”
“Eh? Aku tidak tahu, tadi lupa bertanya.”
Ryeohyun menghela nafas,
“Dulu aku satu ekstrakurikuler dengannya…”
Ryeohyun mulai menceritakan sedikit detailnya, aku hanya menyimaknya, tidak berani bertanya lebih jauh.
Di mall,
“Ryeohyun, Park Chanyeol mirip sekali dengan pemuda di mimpiku.” Ucapku pada akhirnya, Ryeohyun menatapku datar.
“Benarkah?” Tanya Ryeohyun pada akhirnya,
“Ya,” Jawabku seadanya.
“Dia tampan Ryeohyun!”
Oh lidahku! Ryeohyun tersenyum nakal, dan bertanya. “Oh jangan-jangan kamu naksir ya?”
“Jangan bercanda, deh.” Timpalku.
“Hahaha” Dan kami malah tertawa bersama.
Kami memang sering melakukan aktivitas seperti ini. Maksudku, meskipun tidak memiliki uang untuk belanja baju, tas dan sebagainya, kami senang menghabiskan waktu di mall ini. Hanya dengan berburu makanan dan menaiki lantai pertama hingga ke enam dengan melalui anak tangga, cukup membuat kami merasa senang dan beranggapan bahwa kami akan sedikit lebih kurus setelahnya. Bukan. Bukan berarti kami gemuk. Hanya saja akan terasa lebih baik jika kehilangan beberapa kilogram lagi. Berbagi cerita sepanjang perjalanan meniti anak tangga dengan nafas yang sedikit terengah, selalu berhasil membuat persahabatan kami lebih hangat. Meskipun terdengar aneh, itu bukan masalah selama kami bahagia dan menikmatinya. Hingga sore menjelang, baru kami memutuskan untuk pulang.
Sampai rumah masing-masing, seperti biasanya kami saling berbalas pesan singkat.
From: Choi Inha
To: Park Ryeohyun
Itu yang senyum ke aku dimimpi, beneran Park Chanyeol?
From: Choi Inha
To: Park Ryeohyun
Mana kutahu, itu kan mimpimu! Ah, kau naksir ya?
From: Choi Inha
To: Park Ryeohyun
Tidak mungkin! Tapi, jujur saja, dia menarik buatku. Tapi bukan berarti apa-apa. Kau percaya kan?
From: Park Ryeohyun
To: Choi Inha
Ya, kalau menarik sih, aku percaya, tapi kalo bukan berarti apapun, aku kurang percaya. Pasti ada kesan dong? Chanyeol itu pemuda baik lho. Dia sopan, dan tidak sombong juga! Buktinya dia ingat aku lol
From: Choi Inha
To: Park Ryeohyun
Oh hehe. Selamat malam^^
From: Park Ryeohyun
To: Choi Inha
-,-
Seperti musim dingin yang mulai pergi, udara dingin yang mulai berganti dengan kehangatan musim semi. Semuanya berubah seiring berjalannya waktu.
Sehun, sampai kapan kau akan terus besikap dingin kepadaku?
Orang-orang yang datang dan pergi. Rasa lelah dan perasaan yang memudar kini mulai kurasakan.
Kamu tahu cintaku yang membeku untukmu? Selama dua tahun dan sama sekali tak tergoyahkan, seperti musim dingin yang begitu panjang.
Namun mimpi dan hari itu terasa seperti matahari yang baru mulai menampakan sinarnya, menjalarkan hangatnya dan mulai melelehkan bekunya hatiku.
Cintaku yang membeku kepadamu terasa mencair ketika aku melihat senyuman hangat milik Park Chanyeol.
Aku tidak tahu perasaan apa ini sebenarnya, aku tidak paham akan yang kurasakan.
Aku khawatir.
Aku khawatir akan dirimu yang mulai terhapuskan,
Oh Sehun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar